Skip to content

Repository files navigation

sayang- bagaimana jika biru menggerogoti jasad ku
terlebih dahulu? Bukan dinginnya biru laut, bukan juga semu birunya langit,
namun lebam biru yang perlahan menyelimuti mayatku.

Sayang akan kah kau tetap hadir dan menemaniku,
 bahkan bila atom yang menyusun tubuhku sudah terurai menjadi debu? Dan- apakah kau percaya
 bila aku berkata, aku akan selalu menemanimu
 bahkan hingga raga ku kembali menjadi satu
 dengan alam?

Jika hari di mana aku telah membiru dan kembali
 menjadi satu dengan semesta telah tiba tolong
 tetaplah datang menyapa dan ceritakan bagaimana
 hari-harimu agar aku tak lagi lupa akan bara
 dunia yang pernah menopang keinginan ku untuk
 hidup.

"Labuhan Yang Kutakutkan Bergeser"

Dalam jarak yang sengaja kita ciptakan,
aku melihatmu mengeja tawa bersama dia.
Ada getar cemas yang tak mampu kuredam,
saat duniamu sejenak berporos pada hadirnya.

​Aku cemburu pada waktu yang merajut temu,
pada bait-bait aksara yang kini mulai terbiasa.
Ketakutan ini tumbuh tanpa permisi di dada,
khawatir nyamanmu perlahan berpindah rasa.

​Bagaimana jika dia menawarkan teduh yang lebih luas?
Bagaimana jika hangatnya membuatmu lekas puas?
Sementara aku di sini, berteman sunyi,
merutuki cemas yang kian menghantui.

​Bukan aku tak mempercayai keteguhan jemarimu,
hanya saja aku terlalu rapuh untuk kehilanganmu.
Di balik gemuruh rasa yang tak terucapkan ini,
kuharap aku tetap menjadi satu-satunya tempatmu kembali.
~
Dituliskan pada seperempat malam,
ketika rindu lebih fasih daripada tidur.
Di ruang yang tak lagi cukup luas
untuk menyembunyikan cemburu.

Het land van Mataram
15 Juli 2026

"SEKALI"

"Jika aku meninggal besok, aku ingin sekali 'kau menciumku.'" tuturku.
"Random sekali ceracaumu." protesmu.
"Tak apa bukan? Aku ingin sekali 'kau menciumku.'" tandasku.
"Baiklah." jawabmu seraya mengecup keningku.
Dan ternyata itu adalah kecupan terakhirmu untukku. Sebab kau abai memaknai 'sekali' sebagai 'sekali' bukan 'sekali'.

Jika dalam puisinya pak sapardi mengatakan:
"aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu",
maka dalam puisiku, aku mengatakan:
"aku akan mencintaimu dengan cara yang paling agung,
menyematkan namamu dalam sajak yang indah,
merayakanmu dalam setiap jengkal aksara,
menjadikanmu tokoh utama dalam setiap cerita."

Banyak Banyak


"Banyak-banyaklah memasak, Sayang!"

"Karena masakanku enak?"

"Tidak juga.

Tapi, karena kamu cantik saat melakukannya."

About

Resources

Stars

0 stars

Watchers

1 watching

Forks

Releases

Packages

Used by

Contributors

Languages